Pengembangan Diri
Bicara Itu Ada Seninya
Storytelling Bersama Bapak
Seringkali saya disebut imajinasinya banyak, saat berdiskusi bersama teman. Awalnya saya tidak tahu, imajinasi itu muncul begitu saja saling bertaut pada tiap kata yang diucap.
Namun, belakangan saya menyadari bahwa hal ini terbentuk secara evolutif saat kecil hingga dewasa. Lalu saya merunut kisah, mengingat masa.
Lalu...
Bapak saya itu seorang storyteller yang cakap, sewaktu saya dan adik masih kecil tiap akan tidur selalu ada dongeng diceritakan beliau kepada kami. Entah kenapa, ceritanya boleh sama namun kami tidak pernah bosan mendengar.
Bapak cerita dan..bapak cerita dan...rengek kami tiap malam.
Ceritanya mulai dari, wandiu-ndiu, landoke-ndoke, batu badao, batu lamangga, kisah wakinamboro, kisah negeri kucing, la ganteng si anoa, hingga siluman buaya.
Dalam bercerita beliau begitu ekspresif. Bahkan hingga ada radio khusus yang diperbaiki oleh beliau hanya untuk memutar kaset pita berisi cerita putri cinderela. Kami sering mendengarkannya, mengimajinasikan adegan hingga memahami maknanya dan itu dilakukan berulang-ulang.
Nah, kini saya paham bahwa dari mana imajinasi yang dikatakan teman saya itu terbentuk dalan diri saya. Asupan oral literasi melalui cerita masa kecil oleh bapak, begitu membekas dan membentuk cara saya hari ini untuk memamah kata.
Seperti halnya buku yang kini tengah saya baca saat ini, terima kasih om Oh Su Hyang telah menarik ingatan ini.
Al Fatihah untuk bapak, semoga anak saya juga bisa mendapati bapaknya handal sebagai storyteller buatnya...
Saya tutup sama lagu yang selalu kami menyanyikan bersama, untuk cerita landoke-ndoke..."ndauali-ndauali gula iye iye"...

Post a Comment
0 Comments